BagikanSeorang siswa ABK di Surabaya diduga menjadi korban pengeroyokan belasan teman sekolah, memicu keprihatinan masyarakat luas. Seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berinisial AM (16) dari Tegalsari, Surabaya, menjadi sorotan setelah diduga korban perundungan belasan teman sekolah. Video kekerasan tersebar luas di media sosial, memicu keprihatinan banyak pihak. Kejadian ini menambah daftar kasus perundungan di lingkungan pendidikan yang butuh perhatian serius. Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di SOROT KRIMINAL SEKOLAH. Kronologi Kejadian Tragis Peristiwa pengeroyokan ini terjadi pada Selasa (10/2) lalu, bermula ketika AM, seorang siswa SMK swasta di Kecamatan Wonokromo, diminta guru untuk mencuci muka karena tertidur di kelas. Setelah mencuci muka di kamar mandi, AM dihadang dan mulai di-bully oleh teman sekelasnya. Meskipun AM berusaha menghindari, gangguan terus berlanjut hingga keluar area sekolah. Menurut kesaksian Dewi, bibi korban, perundungan verbal terus berlanjut hingga memprovokasi emosi AM. Salah satu pelaku berteriak menantang AM untuk berkelahi satu lawan satu di luar sekolah. Provokasi ini akhirnya berujung pada tindakan kekerasan fisik yang tidak terhindarkan. Pengeroyokan pun terjadi di luar sekolah, melibatkan belasan siswa. Dewi mengungkapkan bahwa ada sekitar 11 hingga 13 anak yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. AM dihajar dan dikeroyok secara brutal, meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam bagi korban. Dampak Fisik Dan Psikologis Korban Akibat pengeroyokan tersebut, AM mengalami sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya. Dewi menyebutkan bahwa korban mengalami luka pada mata, bahu kiri, dan perutnya. Sehari setelah kejadian, korban merasakan sakit di lambung sebelah kanan, diduga karena sempat ditendang dengan lutut oleh salah satu pelaku. Selain luka fisik, AM juga mengalami dampak psikologis yang serius. Korban sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur selama beberapa hari untuk mendapatkan penanganan. Kondisi ini menunjukkan betapa parahnya trauma yang dialami AM akibat perundungan yang ia terima. Keluarga korban sangat terpukul dengan kejadian ini. Dewi menceritakan bahwa AM bahkan sempat menangis dan meminta bantuan untuk memviralkan kasusnya. “Ma, tolong viralin, Ma. Tolong viralin, Ma. Hukum itu Ma pelakunya, aku sudah capek,” tutur Dewi menirukan ucapan keponakannya yang putus asa. Baca Juga: Pedagang Mainan di Deli Serdang Cabuli 28 Siswi SD, Polisi Turun Tangan Laporan Kepolisian Dan Harapan Keluarga Keluarga korban tidak tinggal diam, mereka telah melaporkan dugaan pengeroyokan yang menimpa AM kepada pihak kepolisian. Langkah hukum ini diambil dengan harapan agar pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal dan kasus serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. Dewi mengungkapkan bahwa keponakannya telah menjadi sasaran perundungan sejak awal masuk sekolah tersebut. “Yang paling parah 10 Februari itu. Sudah sekitar satu bulan katanya sering dibully,” ujar Dewi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kasus ini bukan insiden tunggal, melainkan pola perundungan yang berlangsung lama. Pihak keluarga berharap agar kasus ini dapat ditangani secara serius dan transparan oleh aparat kepolisian. Mereka menginginkan keadilan bagi AM dan perlindungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus lainnya agar tidak menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah. Mencegah Perundungan di Lingkungan Pendidikan Kasus yang menimpa AM ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak, terutama institusi pendidikan, tentang bahaya perundungan. Diperlukan upaya serius dan berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif bagi semua siswa, termasuk ABK. Program pencegahan perundungan harus diintensifkan. Sekolah harus proaktif dalam mengidentifikasi tanda-tanda perundungan dan memberikan dukungan psikologis bagi korban. Edukasi mengenai empati dan toleransi juga perlu ditanamkan sejak dini kepada seluruh siswa. Peran guru dan orang tua sangat krusial dalam membangun karakter anti-perundungan. Pemerintah dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mengawasi dan mendukung implementasi kebijakan anti-perundungan. Dengan kerja sama lintas sektor, diharapkan kasus seperti yang dialami AM tidak akan terulang, dan setiap anak dapat belajar serta tumbuh kembang di lingkungan yang positif dan aman. Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi menarik setiap hari, khusus untuk Anda, hanya di SOROT KRIMINAL SEKOLAH. Sumber Informasi Gambar: Gambar Pertama dari detik.com Gambar Kedua dari polrespangandaran.id Post navigation Kasus Pengeroyokan ABK di Surabaya, Kepala Sekolah Diperiksa Polisi Geger! Oknum Brimob Diduga Aniaya Siswa di Tual, Kapolri Turun Tangan